SEMINAR NASIONAL HARI LANJUT USIA NASIONAL KE 24 “MENUA ITU PASTI, SEJAHTERA ITU PILIHAN’

BKKBN Jambi – Senin 15 Juni 2020, Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional ke 27, BKKBN mengadakan seminar nasional melalui virtual (Webinar) tentang Lanjut Usia (Lansia). Kegiatan ini sekaligus memperingati Hari Lanjut Usia Nasional yang jatuh pada tanggal 29 Mei lalu. Seminar Nasional yang dilakukan secara online ini menghadirkan empat orang narasumber, diantaranya Kepala BKKBN RI dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), Prof. Dr. drg. Tri Budi Wahyuni Raharjo, MS, DR. (HC) Dra. Nurhayati Subakat, Apt, Ir. H. Heppy Trenggono, M.Kom. Webinar ini di moderator oleh News Director Kompas TV Rosiana Silahahi.

Mengangkat Tema Negara Hadir Untuk Lansia, Webinar ini diikuti oleh hampir tujuh ribu peserta yang terdiri dari pegawai BKKBN, penyuluh lapangan KB seluruh Indonesia, dan juga masyarakat umum. Disiarkan secara online melalui aplikasi Zoom meeting, Youtube, dan juga facebook bkkbnofficial live streaming, mendapatkan antusiasme yang cukup baik dari peserta. Seperti dikutip dari siaran pers BKKBN, dr. Hasto menyampaikan bahwa “Kita sangat berharap bahwa lansia ini jangan hanya dijadikan objek penerima bantuan, karena sebetulnya lansia ini memerlukan perhatian. Karena banyak kasus lansia yang terlantar, mereka sangat membutuhkan kita. Dan Indonesia kedepannya akan banyak sekali memiliki lansia.” (bkkbn.go.id)

Berdasarkan data BPS 2019, Penduduk Lansia di Indonesia sebesar 25,77 juta jiwa (9,60 persen) dari populasi penduduk. Bertambahnya penduduk lansia bukan tanpa alasan, gencarnya pembangunan kesehatan dan sosial ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia membuat usia harapan hidup penduduk Indonesia mengalami peningkatan. Bappenas memproyeksikan angka harapan hidup di Indonesia mencapai 73,4 tahun pada tahun 2020, dengan umur harapan hidup laki-laki 71,49 tahun dan perempuan 75,27 tahun. Melihat tren angka harapan hidup masyarakat Indonesia tersebut, bonus demografi yang akan dialami Indonesia juga mau tidak mau akan menyumbangkan peningkatan jumlah lansia di masa yang akan datang setelah penduduk usia produktif tersebut mulai memasuki usia 60 tahun ke atas.

Selanjutnya Hasto menjelaskan bahwa di masa-masa yang akan datang proporsi penduduk lansia Indonesia pada tahun 2050 sampai tahun 2100 akan bertambah banyak. Indonesia akan jauh lebih meningkat jumlah lansianya dibandingkan proporsi di tingkat dunia. Jumlah penduduk lansia yang membesar ternyata berpotensi memberikan banyak benefit jika tangguh, sehat dan tetap produktif. Kondisi itu bisa menjadi bonus demografi kedua ketika dari kelompok lansia masih memiliki pendapatan lebih besar ketimbang konsumsinya sehingga masih bisa menabung serta menjelaskan cara menjadikan lansia tangguh, sehat dan tetap produktif juga dihubungkan dengan kesehatan reproduksi lansia.

Menurut Hasto, sebetulnya umur 32 tahun adalah puncak dari umur manusia dan setelah 32 tahun ternyata pembuluh darah menjadi menyempit dan tulang pun menjadi keropos. Begitu umur 33 tahun proses ageing sudah terjadi. Maka dari itu segala permasalahan akan terjadi termasuk masalah kesehatan pada lansia. Selain itu masalah kesehatan reproduksi lansia juga tidak kalah penting untuk diperhatikan karena permasalahan tersebut meliputi kesehatan fisik dan mental sepanjang siklus kehidupannya. Pada lansia perempuan mengalami atrofi/penyusutan jaringan otot, vagina menjadi kurang elastis, dinding uterus menipis, ovarium mengkerut dan payudara menyusut dan mendatar. Sedangkan pada lansia pria terjadi pembesaran prostat (BPH), kemampuan testis untuk memproduksi, testosteron berkurang, penurunan libido, ejakulasi dini, penurunan tonus otot.

Untuk mengatasi segala permasalahan kesehatan reproduksi lansia tersebut perlu adanya dukungan keluarga dengan selalu menerima perubahan kondisi lansia dan melakukan pendampingan, gaya hidup sehat (Olahraga teratur, konsumsi makanan dengan gizi seimbang, konsumsi vitamin, tidur yang cukup, tidak merokok), dan terapi hormonal seperti Hormone Replacement Therapy dan pemberian hormon Androgen.

“Peran keluarga dalam masalah kesehatan reproduksi tersebut antara lain keluarga dan lansia perlu mengetahui perubahan perkembangan reproduksi yang dialami oleh lansia, keluarga membantu dalam penyediaan makanan yang bergizi bagi lansia, keluarga mendampingi lansia dalam melakukan pemeriksaan kesehatan, memperhatikan gaya hidupnya, keluarga mendukung lansia dalam pengembangan hobi,” tutup Hasto.

Guru Besar Gerontologi Universitas Respati Indonesia dan Council Member Of Active Ageing Consortium Asia Pacific, Prof. Dr. drg. Tri Budi Wahyuni Rahardjo menyampaikan “Program Bangga Kencana kita bisa memasukkan hal yang berkaitan dengan gizi dan perilaku, bisa memasukkan materi mulai dari spiritual untuk memperkuat emosi dan agar memiliki visi yang sehat, bisa bersosialisasi dan didukung dengan lingkungan. Lansia juga seharusnya mempunyai komunitas sendiri. Selain itu, kita bisa mempersiapkan generasi muda atau milineal untuk bagaimana tetap menghormati orang tua dan bagaimana mereka akan menjadi lansia, hal tersebut bisa dilakukan dengan pendidikan keluarga melalui kurikulum yang dilakukan oleh BKB, BKL, dan BKR bisa memasukkan materi pembelajaran agar generasi muda dapat memberikan dukungan kepada lansia. Karena masih banyak lansia yang membutuhkan pendampingan” jelasnya.

Contoh lansia yang masih aktif berkarya dan produktif di Indonesia diantaranya Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin, Mantan Menteri Lingkungan Hidup dan Kependudukan Emil Salim, Mantan Menteri Kependudukan dan Mantan Kepala BKKBN Haryono Suyono, Founder dan CEO Wardah Cosmetics Nurhayati Subakat, selain itu masih banyak Lansia lainnya yang masih produktif. (ry)