Berita: PERAN TOGA/TOGA DALAM PROGRAM KB

Judul

PERAN TOGA/TOGA DALAM PROGRAM KB

Isi

 

Jambi-Bkkbn online : Perlu diakui bersama bahwa selama ini komitmen politis dalam Program Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi masih tertuju kepada perempuan/istri, sementara pria/suami masih belum tersentuh. MOP atau KONTAP pria sebagai salah satu dari dua cara KB pria masih menjadi bahan perbincangan dan perdebatan yang masih terus berlangsung. Tampaknya keputusan ini masih belum final dan belum seperti yang diharapkan. Keputusan sementara yang diketahui masyarakat adalah MUI setuju terhadap kontap sebagai cara Keluarga Berencana, jika dalam keadaan darurat, sedangkan cara KB pria berupa kondom tampaknya tidak masalah. Melalui wawancara mendalam terhadap TOMA/TOGA memperlihatkan bahwa pada prinsipnya dapat menerima KB sebagai alat untuk menjarangkan dan mengatur kelahiran, tetapi kurang setuju bila KB untuk membatasi jumlah anak. TOGA/TOMA mengutarakan bahwa diperlukan alat kontrasepsi pria yang sifatnya tidak permanen, seperti pil, suntik, dan ada pula yang mengatakan setuju dengan MOP asalkan dapat direkanalisasi yang artinya memungkinkan untuk masih punya anak lagi. Bila dilihat dari sikap masyarakat terhadap MOP, ternyata ada yang masih ragu, sekalipun sudah ada kesepakatan MUI secara tegas menyatakan MOP diperbolehkan, jika dalam keadaan darurat. Sebagai alternatif dapat dilakukan berupa penyuluhan/KIE untuk kontrasepsi pria dapat dilakukan dengan menggerakkan tokoh masyarakat, tokoh agama dan atau kelompok-kelompok profesional lainnya (LSOM), yaitu dengan menggalang kemitraan dan kebersamaan dengan sektor terkait, institusi tempat kerja, organisasi profesi, Toma/Toga, LSOM terkait di semua tingkatan.

Ditinjau dari sudut keadaan sosial dan budaya, menurut pandangan TOMA/TOGA keterlibatan suami/pria dalam KB adalah untuk memberikan kesempatan kepada istri untuk istirahat. Tetapi untuk ikut MOP masyarakat masih belum banyak yang berminat dan TOMA kurang menganjurkan karena situasi yang belum mendukung. Sedangkan  keterlibatan suami/pria dalam kesehatan reproduksi, ketidak perhatian kaum suami terhadap istri mereka yang sedang hamil atau paska persalinan, disebabkan karena kesibukan mereka mencari nafkah.

Agar lebih memantapkan peran serta TOGA/TOMA dan mengatasi masalah tersebut di atas, maka Perwakilan BKKBN Provinsi Jambi khususnya Bidang Pelatihan dan Pengembangan menyelenggarakan Pelatihan Program KKB bagi TOGA/TOMA se- Provinsi Jambi yang bertempat di Hotel Ratu tanggal 12 – 16 Februari 2013. Panitia dalam laporannya menyampaikan bahwa keberhasilan program KKB nasional dan kesehatan reproduksi sangat terkait dengan peran TOGA/TOMA. Kepeloporan para ulama, TOGA, TOMA telah bisa menghantarkan program KKB dapat diterima sebagian masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam terutama di Provinsi Jambi. Peserta pelatihan ini berjumlah 33 orang yang terdiri dari 2 orang tokoh agama muslim dan 1 orang tokoh agama non muslim, lanjut panitia.

Adapun materi yang akan disampaikan antara strategi program KB/KR; strategi program KS/PK; program KKB ditinjau dari agama Islam, Katholik, Hindu dan Budha; Kesehatan Reproduksi; Konsep Dasar Advokasi dan KIE; Ketahanan Keluarga; dan Konseling.

Setia Edi, Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jambi, dalam arahannya mengatakan bahwa masalah Kependudukan dan KB dimana tidak hanya membatasi jumlah kelahiran tapi juga untuk mengendalikan jumlah penduduk. Perlu diketahui bahwa laju pertumbuhan penduduk Provinsi Jambi yang masih tinggi 2,55 %. Permasalahan yang juga perlu perhatian yaitu kasus HIV/AIDS menunjukkan hampir setengah (45,9 %) dari seluruh kasus (26.468 orang) yang berasal dari kelompok usia 20-29 tahun. Jika dikaitkan dengan karakteristik AIDS yang gejalanya baru muncul setelah 3 – 10 tahun baru terinfeksi, maka ini makin membuktikan bahwa sebagian besar dari mereka yang terkena AIDS telah terinfeksi pada usia yang lebih muda.

Dukungan tokoh agama dan tokoh masyarakat terhadap program KKB diwujudkan bukan hanya melalui keputusan dan fatwa, tetapi juga melalui pendidikan, penerangan dan penyuluhan. Sosialisasi program KKB dilakukan oleh para tokoh agama dan tokoh masyarakat di antaranya melalui pesantren oleh para kiayi, khutbah jumat di Masjid oleh para khotib, penasehatan perkawinan bagi calon pengantin di kantor KUA oleh para penasehat perkawinan, petugas KUA dan BP4. Tidak hanya itu, sosialisasi juga dilakukan oleh para tokoh agama dan tokoh masyarakat di media massa, seminar, lokakarya, pertemuan kelompok dan bahkan melalui kunjungan rumah, lanjut Setia.

Beliau juga mengharapkan dengan keputusan yang dihasilkan oleh para tokoh agama dapat merupakan payung hukum Islam terhadap penyelenggara program KKB di Indonesia. Dimana sangat sulit mendorong masyarakat menjadi peserta KB tanpa dukungan dan restu para tokoh agama dan tokoh masyarakat. (eva)

JudulInggris

 

IsiInggris

 

TanggalBerita

2/13/2013

Attachments

Created at 2/19/2013 8:06 AM by jambiweb
Last modified at 2/19/2013 8:06 AM by jambiweb