Hari Anak Nasional 2021: Momentum Cegah Anak Indonesia dari Stunting

Menurut Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, anak adalah seorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan. Pengertian anak diutamakan sebagai pemahaman terhadap hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan. Sedangkan pengertian Anak menurut konvensi hak anak (Convention on the Right of The Child) adalah setiap manusia di bawah umur 18 (delapan belas) tahun kecuali menurut Undang-Undang berlaku pada anak, kedewasaan dicapai lebih awal.

Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN) setiap 23 Juli berdasarkan Keppres Nomor 44 Tahun 1984. Seperti ditulis situs Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Tema HAN tahun 2021 adalah “Anak Terlindungi, Indonesia Maju” dengan Tagline #AnakPedulidiMasaPAndemi. “Berbeda dengan peringatan pada tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan HAN tahun ini menghadapi tantangan karena adanya pandemic Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) di Indonesia yang berimplikasi pada masyarakat, terutama anak, mengalami berbagai persoalan seperti masalah pengasuhan bagi anak yang orangtuanya positif COVID-19, kurangnya kesempatan bermain dan belajar serta meningkatnya kasus kekerasan selama pandemic sebagai akibat diterapkannya kebijakan jaga jarak maupun belajar dan bekerja di rumah.” Ungkap  Menteri PPPA I Gusti Ayu Bintang Darmawati, S.E, M.Si atau yg akrab dikenal sebagai Bintang Puspayoga.

Selai itu HAN harus dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan kepedulian semua warga bangsa Indonesia, baik orang tua, keluarga, masyarakat, dunia usaha, media massa dan pemerintah terhadap pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak agar anak Indonesia yang berjumlah 85,6 juta pada tahun 2020 dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, sehingga menjadi generasi penerus yang berkualitas tinggi.

Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat Dr. (H.C.) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K), Indonesia akan mendapatkan bonus demografi tahun 2030-2035. Bonus demografi menunjukkan angka dependency ratio (rasio ketergantungan) antara yang bekerja (usia produktif) lebih besar dibandingkan dan tidak bekerja (non produktif).  Menurut Hasto,  bonus demografi diprediksi agak maju, “Dulu dugaan kita pada tahun 2025 setiap 100 orang produktif menampung 46 tahun. Tapi ternyata tahun 2020 ini Indonesia rata-rata setiap 100 orang hanya menanggung 44. Yang kita khawatirkan jangan-jangan nanti window opportunity-nya maju. Akhirnya aging population-nya maju juga. Kesempatan untuk sejahteranya segera akan berakhir. Mungkin tidak sampai pada tahun 2035”. Bonus demografi hanya bisa dicapai dan dinikmati jika generasi penerus yaitu anak dan remaja memiliki kualitas dan karakter yang baik, sehingga kualitas SDM Indonesia harus segera dipersiapkan dari sekarang.

Salah satu faktor yang menghambat kualitas SDM Indonesia ke depan adalah stunting. Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak yang tidak hanya berakibat pada fisik, namun juga kecerdasan anak.  Selama ini menurut data yang dipaparkan Hasto, persoalan stunting menyumbang 27,7 persen,  lalu mental disorder 9,8 persen, selanjutnya difabel-autisme  4 persen dan terakhir  persoalan  nafza 5,1 persen. Inilah fokus BKKBN ke depan bagaimana menjadikan kualitas SDM unggul di masa mendatang.

Salah satu program yang dilaksanakan BKKBN dalam mencegah stunting yaitu melalui pendampingan keluarga. Mengawal orang yang mau menikah dan orang yang mau hamil. Melalui program PKK dan pengerahan bidan yang berpartner dengan penyuluh dan kader PKK. Semua ini dilakukan untuk mencegah stunting. Program yang akan dilakukan dengan mengawal bantuan seperti makanan tambahan, dan makanan pendamping ASI selain itu bagaimana mengajak dan mensosialisasikan peran dan tanggung jawab orang tua dan keluarga dalam pengasuhan tumbuh kembang anak khususnya di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).  “Program ini akan dilakukan dalam 1.000 hari kehidupan pertama. Di sinilah stunting itu bisa dikoreksi. Kalau sudah lewat itu kita menyerah. Soalnya perkembangan otak bayi itu terjadi pada usia itu dua tahun pertama. Setelah itu bisa berkembang tapi tidak maksimal. Begitu juga dengan pertumbuhan fisiknya, juga ditentukan saat usia 1.000 pertama ini,” paparnya. (rmd)