APA SIH ITU iBANGGA?

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga telah ditetapkan sebagai lembaga yang ditugaskan menetapkan kebijakan pembangunan keluarga. Upaya pembangunan keluarga dilaksanakan melalui 2 segmen yang saling terkait yaitu pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Upaya ini tidak hanya menjadi pekerjaan pemerintah pusat, tetapi juga menjadi tugas/kewenangan pemerintah daerah seperti diamanahkan di dalam Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintah daerah. Dalam pembagian urusan pemerintahan konkuren antara pemerintah pusat dan daerah provinsi dan daerah kabupaten/kota, pemerintah daerah bertanggung jawab dalam pengelolaan pelaksanaan desain program pembangunan keluarga melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Penyelenggaraan pembangunan keluarga bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah dipertegas lagi ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2014 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Keluarga Berencana dan Sistem Informasi Keluarga.

 

Untuk mengukur pembangunan keluarga, BKKBN telah melakukan kajian indikator pembangunan keluarga yang dikembangkan dalam 8 dimensi yaitu dimensi legalitas, agama, kesehatan, pendidikan, ekonomi, lingkungan,  sosial/budaya, dan psikologis. Pembangunan keluarga dilaksanakan dalam rangka mewujudkan keluarga berkualitas agar mendukung keluarga dapat melaksanakan 8 fungsi keluarga secara optimal. Keluarga yang berkualitas dapat terwujud bilamana masing-masing anggota keluarganya berkualitas, dalam suasana tenteram yang berkelanjutan, ditandai dengan hubungan yang harmonis, penuh kasih antara anggota keluarga, yang dapat tercapai berkat kemandirian keluarga, karena mempunyai sumber daya dan tersedianya akses untuk memenuhi kebutuhan secara berkualitas dan dengan demikian mencapai kebahagiaan afektif yang menyangkut perasaan maupun evaluatif, yakni kepuasan atas hidup layak.

 

Indeks Pembangunan Keluarga (iBangga) merupakan suatu pengukuran kualitas keluarga (kemandirian, ketenteraman, kebahagiaan) untuk semua wilayah di Indonesia. iBangga digunakan untuk mengklasifikasikan suatu wilayah dengan status pembangunan keluarga berkualitas, berkembang atau rentan. Nilai iBangga berkisar antara 0-100 dengan kategori sebagai berikut: a) Indeks Pembangunan Keluarga yang kurang baik (rentan) apabila nilainya  di bawah 40; b) Indeks Pembangunan Keluarga yang cukup baik (berkembang) apabila nilainya antara 40 – 70; c) Indeks Pembangunan Keluarga yang  baik (berkualitas) apabila nilainya di atas 70.

 

Selain itu iBangga ini juga bermanfaat untuk mengukur keberhasilan pembangunan keluarga secara nasional maupun wilayah, menentukan level pembangunan keluarga suatu wilayah, mengidentifikasi permasalahan kualitas keluarga di tingkat keluarga (by name by address), bahan untuk menyusun kebijakan keluarga melalui program/kegiatan yang dibutuhkan oleh keluarga di daerah sesuai dengan permasalahan yang ditemukan, dan dapat dijadikan target pembangunan suatu wilayah, sehingga angka iBangga merupakan kunci dari keberhasilan pembangunan. Diharapkan melalui perumusan iBangga dapat meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia bangsa Indonesia sehingga mampu berdaya saing di kancah nasional maupun internasional.

 

Penyusunan iBangga berlandaskan pada konsep kerangka teori tentang keluarga, dimana Keluarga terdiri atas struktur, peran dan fungsi serta berdasarkan pendekatan tahapan perkembangan keluarganya yang hidup dalam lingkungan ekologi yang sehat. Pembangunan keluarga adalah upaya mewujudkan keluarga berkualitas yang ditunjukkan melalui ketentraman, kemandirian dan kebahagiaan keluarga. Dengan demikian, indikator pembangunan keluarga terdiri atas 3 dimensi yaitu kemandirian, ketenteraman dan kebahagiaan keluarga.

Dimensi Ketenteraman terdiri dari  4 indikator, yaitu kegiatan Ibadah, Legalitas keluarga, Jaminan kesehatan dan Keharmonisan keluarga. Adapun variabelnya ada 6 (enam) yaitu :

  1. Selama 6 bulan terakhir,  setiap anggota keluarga (usia 10 tahun ke atas) menjalankan ibadah secara rutin sesuai dengan tuntunan agama atau kepercayaan yang dianut
  2. Keluarga memiliki buku/akta nikah yang disahkan oleh pejabat yang berwenang
  3. Setiap anak (usia 0- 17 tahun) dalam keluarga memiliki akta lahir yang disahkan oleh pejabat yang berwenang
  4. Setiap anggota keluarga memiliki kartu jaminan kesehatan (pemerintah/swasta)
  5. Selama 6 bulan terakhir, terdapat konflik  : a)Tanpa tegur sapa; b) Pisah ranjang antara suami dan istri; c) Anggota keluarga pergi dari rumah/minggat; d) Kekerasan dalam rumah tangga antar anggota keluarga
  6. Keluarga mengalami cerai hidup

Dimensi Kemandirian terdiri dari 5 (lima) indikator yaitu Pemenuhan kebutuhan dasar, Keberlangsungan pendidikan, Kesehatan keluarga, Akses informasi, dan Jaminan keuangan. Adapun variablenya ada 7 (tujuh) terdiri dari :

  1. Selama 6 bulan terakhir, terdapat [aling sedikit 1 (satu) anggota keluarga memiliki sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan pokok per bulan.
  2. Selama 6 (enam) bulan terakhir, setiap anggota keluarga makan “makanan beragam” (makanan pokok, sayur/buah dan lauk) paling sedikit 2 (dua) kali sehari
  3. Keluarga tinggal dalam rumah layak huni
  4. Keluarga memiliki tabungan/simpanan (uang kontan, perhiasan, hewan ternak, hasil kebun, dll) yang dapat digunakan sewaktu-waktu untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam 3 (tiga) bulan kedepan
  5. Setiap anggota keluarga yang saat ini berusia sekolah (7-18 tahun) tidak ada yang putus sekolah di SD/Sederajat sampai dengan SLTA/sederajat)
  6. Selama 1 (satu) bulan terakhir, terdapat anggota keluarga yang sakit 4 (empat) hari berturut-turut  sehingga meninggalkan aktifitas
  7. Keluarga memiliki akses informasi dari media online (internet)

 

Dimensi Kebahagiaan terdiri dari 2 (dua) indikator yaitu Interaksi keluarga dan Interaksi sosial. Adapun variabelnya ada 4 (empat) yang terdiri dari :

  1. Selama 6 bulan terakhir, setiap anggota keluarga memiliki waktu untuk berinteraksi setiap hari
  2.  Selama 6 bulan terakhir, pengasuhan anak dilakukan bersama antara suami dan istri
  3. Selama 6 bulan terakhir, keluarga pernah berekreasi bersama di luar rumah
  4. Selama 6 bulan terakhir, keluarga ikut serta dalam kegiatan sosial / gotong royong di lingkungan RT

 

Semua indikator iBangga ini telah dimasukkan dalam pendataan keluarga tahun 2021. Diharapkan melalui pendataan keluarga 2021, masyarakat dapat memberikan informasi yang sebenar-benarnya agar data mikro keluarga Indonesia dari segi kependudukan, keluarga berencana dan pembangunan keluarga dapat tergambar dengan jelas dan sesuai dengan kondisi riil. iBangga merupakan tolak ukur untuk memotret dan mencarikan solusi terhadap permasalahan setiap keluarga di Indonesia. Diharapkan melalui iBangga dapat diketahui permasalahan dasar setiap keluarga sehingga penanganan masalahnya bisa lebih cepat dan tepat. Oleh karena setiap keluarga mempunyai permasalahan yang berbeda maka penanganannya juga seharusnya berbeda. Isu tentang pembangunan keluarga merupakan isu lintas sektor, dimana semua sektor berperan dalam meningkatkan pembangunan keluarga di Indonesia. Terwujudnya ketahanan nasional tidak terlepas dari peran keluarga, karena keluarga merupakan pilar pertama dan utama dalam membangun bangsa dan merupakan unit terkecil yang menentukan bangsa. Perlu dukungan semua pihak sehingga iBangga mampu memberikan manfaat yang besar untuk mengatasi permasalahan keluarga yang berpotensi menjadi permasalahan bangsa secara tepat. (rmd).