Antara Bekerja, dan Mengasuh Anak

Pertanyaan inilah yang sering muncul dibenak para orang tua yang bekerja, umumnya terjadi pada keluarga muda yang tinggal di daerah perkotaan, dimana mereka dihadapkan pada dua pilihan yang sulit.  Disatu sisi orang tua bertanggung jawab dalam mengasuh anak yang masih kecil, dan disisi lain menghadapi desakan ekonomi keluarga sehingga mengharuskan mereka bekerja di luar rumah. Kebutuhan ekonomi keluarga yang terus meningkat menuntut bukan hanya ayah sebagai kepala keluarga yang mencari nafkah, namun Ibu terkadang harus bekerja diluar rumah untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Hal ini berdampak bagi pengasuhan anak, dimana orang tua yang mempunyai anak usia pra sekolah atau 0-6 tahun mau tidak mau menyerahkan pengasuhan anaknya kepada orang lain. Di Indonesia pada umumnya, pengasuhan anak bagi orang tua yang bekerja diserahkan kepada nenek/kakek, adik/kakak/sepupu/ keluarga lainnya yang tidak bekerja, tetangga, pengasuh atau lembaga penitipan anak sebagai jalan terakhir jika memang tidak ada anggota keluarga atau orang dekat yang bisa dipercaya untuk mengasuh anak. Mencari pengasuh anak terkadang tidak mudah karena kita harus benar-benar tahu karakter si pengasuh, pengalamannya dalam mengasuh, dan butuh penyesuaian untuk memastikan apakah anak merasa nyaman dan aman diasuh orang lain.

 

Pengasuhan erat kaitannya dengan kemampuan keluarga dalam memberikan perhatian, waktu dan dukungan untuk memenuhi kebutuhan fisik, mental dan sosial anak yang sedang dalam masa pertumbuhan. Padahal kita tahu bersama bahwa anak umur 0 – 6 tahun merupakan tahapan paling penting karena merupakan masa keemasan bagi seorang manusia. Pada masa ini anak memiliki kemampuan untuk menyerap 100% semua hal yang diterima dari lingkungannya. Butuh perhatian  besar dan bimbingan dari para orang tua agar anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Tidak hanya pemenuhan kebutuhan gizi tetapi juga kebutuhan kasih sayang dan stimulus tumbuh kembangnya.

 

Kecenderungan suami dan istri bekerja menyebabkan anak lebih sering menghabiskan waktunya bersama pengasuh, nenek dan kakeknya atau anggota keluarga lainnya. Waktu yang dimiliki orang tua untuk bersama anak semakin sedikit, dan berpengaruh pada kedekatan emosional antara anak dan orang tua. Pola asuh seperti ini bisa menimbulkan dampak serius bagi psikologi anak jika tidak dikelola dengan baik bahkan dapat berkembang menjadi permasalah sosial. Seringkali orang tua beranggapan bahwa bentuk curahan kasih sayang mereka dengan cara memenuhi semua keinginan anaknya tanpa memfilter apakah keinginan itu sesuai dengan kebutuhannya. Ada anekdot yang menyatakan bahwa kegagalan dalam pengasuhan anak bukan selalu disebabkan karena kurangnya kasih sayang orang tua pada anak melainkan karena orang tua tidak tahu bagaimana cara mengasuh yang baik dan benar.

 

Pola pengasuhan anak menjadi bagian yang penting bagi orang tua karena akan menentukan bagaimana karakter anak dimasa yang akan datang dan bertujuan agar anak berkembang secara optimal. Pola pengasuhan anak sejak dini akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Keluarga sebagai unit terkecil memiliki peran penting dalam pembentukan karakter individu, sehingga keluarga perlu dibekali pengetahuan dan keterampilan yang cukup dalam mengasuh anak. Orang tua perlu mengetahui tentang tuntutan dan kebutuhan anak umur 0-6 tahun karena anak pada usia ini memiliki kondisi yang unik dari berbagai segi tahapan antara lain perkembangan manusia, perkembangan personalitas, psikososial, penghargaan diri dan sisi pengaruh sosial.

 

Sebagai contoh tuntutan anak usia bayi,pada masa ini sangat tergantung pada kehadiran fisik orang dewasa. Mereka perlu digendong, dipeluk, disuapi, dimandikan oleh orang dewasa. Pada masa anak usia 36 sampai 72 bulan, periode kritis ini orang tua berperan sebagai pendorong semangat dalam kreativitas belajar dan bermain. Sedangkan pada anak awal atau pra sekolah, biasanya anak mulai menuju ke kemandirian, tidak lagi bergantung pada orang tua dan pengasuhnya. Pada masa ini anak mulai belajar memenuhi kebutuhan sendiri, memelihara diri sendiri dan mulai bermain dengan teman sebayanya. Kadangkala anak-anak lebih memilih main dengan teman sebayanya daripada diajak pergi oleh orang tuanya.

 

Selain itu orang tua juga perlu mengetahui apa saja kebutuhan anak pra sekolah Kebutuhan pendidikan salah satunya, pada masa anak usia pra sekolah (PAUD/TK) mereka membutuhkan sarana belajar seperti buku, seragam sekolah, alat tulis lainnya. Anak pra sekolah perlu dipenuhi kebutuhan mobilitasnya, mereka bersosialisasi dengan teman sekolah atau tetangga dekat seperti bermain sepeda. Selain itu pada masa pra sekolah anak dapat diberikan pelatihan sesuai minat dan bakatnya seperti les menari/musik/menyanyi. Para orang tua juga hendaknya sudah mulai menyiapkan asuransi kesehatan dan pendidikannya. Selain pemenuhan kebutuhan gizinya, dengan memberikan asupan makanan/vitamin yang cukup, orang tua juga perlu memberikan pendidikan karakter dan mulai diajarkan beribadah seperti mengaji, sholat, atau mengajak ke tempat ibadah. Diwaktu libur, orang tua perlu mengajak anak bermain dekat rumah dan nonton tv bersama, atau sesekali pergi rekreasi ke tempat wisata dan nonton bioskop. Yang tidak kalah pentingnya orang tua perlu menyediakan waktu (quality time) untuk anak untuk merasakan dipeluk/digendong/dipangku, dimandikan, dibacakan cerita dan disuapi. Orang tua perlu membangun komunikasi secara langsung tatap muka, menyediakan ruang bermain di rumah dan kebutuhan pengakuan sosial atau penghargaan atas keberhasilan anak. Momen seperti inilah yang tidak akan bisa pernah terulang dan akan diingat hingga mereka dewasa nanti.

 

Untuk itu perlu adanya pembagian peran pengasuhan bagi suami istri yang sama-sama bekerja. Mengasuh dan membesarkan anak memang bukan pekerjaan yang mudah dan ringan. Mengasuh anak juga bukannya urusan ayah saja atau ibu saja. Tentu saja tugas dalam pengasuhan ini akan menjadi ringan jika dilakukan secara bersama-sama dengan tulus dan ikhlas. Kerjasama antara suami dan istri dalam pembagian peran dan pengambilan keputusan akan semakin memperkuat keharmornisan keluarga dan akan berpengaruh pada jiwa dan karakter anak. Untuk mewujudkan keharmonisan keluarga, disinilah pentingnya orang tua berbagi peran dalam menjalankan fungsi keluarga yang terdiri dari 8 fungsi yaitu fungsi keagamaan, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialiasi dan pendidikan, ekonomi dan pembinaan lingkungan. Suami dan istri perlu membangun kesadaran untuk menyeimbangkan peran dan aktivitasnya dalam menjalankan 8 fungsi keluarga. Dalam menjalankan fungsi keagamaan misalnya, Suami sebagai pemimpin rumah tangga berperan mengajak seluruh anggota keluarga untuk beribadah, selalu bersyukur dan menjadi contoh bagi anak-anaknya. Sementara istri juga berperan mengajak dan mengingatkan anak-anak untuk beribadah seperti mengaji, bersikap sabar dan menanamkan nilai-nilai moral lainnya.

 

Dalam pembagian pembagian peran pengasuhan anak pada orang tua yang bekerja perlu dibangun prinsip bahwa anak adalah tanggung jawab orang tua yang harus diasuh dan dilindungi. Suami istri harus bertanggung jawab secara bersama dalam mengasuh anak, Saling bekerja sama dalam menjalankan tugas keluarga dengan saling menghormati dan membutuhkan. Pengasuhan anakpun perlu dilandasi dengan pedoman agama, norma dan budaya setempat. Untuk membangun prinsip-prinsip tersebut, perlu komunikasi yang efektif antara suami dan istri yang bekerja karena akan sangat membantu bagi suami dan istri dalam menjalankan peran ganda ini. Komunikasi dalam keluarga sangatlah penting, untuk mencari cara bersama-sama dengan pasangan dalam membesarkan dan bertanggung jawab dengan anak. Semakin dewasa anak, maka akan semakin kompleks permasalahan yang dihadapi orang tua. Peran orang tua disini adalah bagaimana pembentukan perilaku anak yang baik, belajar mendisiplinkan anak, mendukung proses belajar anak, menjaga keamanan anak dan memberikan penghargaan diri anak atas keberhasilan mereka sekecil apapun.

 

Ayah dan ibu mempunyai tanggung jawab yang sama dalam mengasuh, mendidik dan melindungi anak-anaknya, walaupun dalam pelaksanaannya, peran ibu lebih dominan dalam perawatan dan pengasuhan. Untuk itu perlu kesadaran dan kesepakatan bersama adanya pembagian tugas yang bijaksana baik dalam pengasuhan anak maupun dalam urusan rumah tangga.  Misalnya saja suami dan istri mempunyai jadwal rutin bekerja dari pagi sampai sore hari dan keluarga tersebut yang mempunyai anak bayi. Sang istri sebelum berangkat kerja sudah memerah ASI dan menyimpannya di kulkas. Diwaktu senggang, istri juga memerah ASI dikantor, disimpan dikulkas, dan diberikan saat pulang kerja. Suami berperan bergantian menjaga bayinya setelah pulang kerja, dan bersama-sama mengurus bayinya. Suami pun bisa membantu urusan domestik keluarga (mencuci, menyapu, mengepel dll) termasuk membeli keperluan rumah tangga di pasar atau supermarket. Pembagian peran seperti ini selain dapat meringankan beban suami dan istri, juga dapat meningkatkan keharmonisan keluarga.

 

Bagi orang tua yang bekerja, penyeimbangan urusan keluarga dan pekerjaan menjadi sangat penting, terutama bagi perempuan yang menjalani peran ganda, sebagai pekerja dan ibu rumah tangga. Seorang ibu yang memiliki anak usia bayi/balita, dituntut bisa menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga dengan cara tetap meniti karir namun juga harus bersabar dengan tuntutan keluarga yang tinggi. Kehadiran pembantu/pengasuh dapat membantu ibu untuk mengurus dan mengatasi masalah anak usia bayi/balita. Namun, kehadiran fisik seorang ibu sangat dibutuhkan oleh anak bayi/balitanya pada saat perawatan (mandi, dan perawatan tubuh), anak sakit, anak menangis dan sebagainya. Kebutuhan akan kasih sayang dan cinta seorang ibu kepada anaknya tidak dapat digantikan oleh siapapun. Kalaupun ibu ingin tetap berkerja sebaiknya pilihlah pekerjaan yang ramah terhadap keluarga (yang ada tempat penitipan anak, ada masa cuti/liburan dan kesempatan istirahat yang bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan keluarga). Atau perempuan bisa bekerja didalam rumah atau disekitar rumah sebagai pekerja rumahan dengan bantuan teknologi (Jualan online) sehingga bisa bekerja mencari pendapatan sekaligus mengurus anaknya.

 

Pada saat perempuan ingin bekerja diluar rumah, maka sebenarnya ada perasaan psikologis bersalah karena meninggalkan anak. Jika bekerja itu suatu keharusan karena butuh uang atau bekerja untuk memberi kehidupan lebih layak kepada anak, misalnya biaya pendidikan? Jadi tidak perlu merasa bersalah. Upayakan menjelaskan kepada anak sejak dini, bahwa ibunya bekerja untuk membantu ayah agar dapat memberi kehidupan keluarga yang lebih baik. Ibu juga hendaknya menyiapkan semua keperluan pekerjaan dan keluarga pada malam hari setelah anak tidur. Usahakan untuk mencurahkan waktu khusus bagi anak setiap pulang kerja, tentunya dengan memberikan waktu istirahat dulu pada diri kita yang lelah bekerja seharian. Dengan menemani anak tidur sambil membaca cerita atau dongeng dapat membangun kebersamaan ibu dan anak. Ada baiknya rencanakan acara kebersamaan di akhir minggu bersama anak, baik olahraga bersama, liburan ke tempat wisata atau sekedar jalan-jalan mencari kebutuhan anak.

 

Pada kenyataannya seorang perempuan dapat berkarir dengan baik tidak terlepas dari dukungan suami dan pengertian anak-anaknya. Dukungan ini dalam bentuk dukungan moril dan materil serta dukungan tenaga dalam membantu pekerjaan rumah. Hal-hal yang menjadi tugas ibu dalam pengasuhan anak harus bisa digantikan oleh ayah, terutama para ibu yang bekerja diwaktu yang panjang bahkan dinas diluar kota. Oleh karena itu keputusan seorang perempuan (istri) untuk berkarir, perlu dikomunikasikan dengan suami dan anak-anaknya. Apakah suami dan anak siap menerima konsekuensi bersama-sama apabila ibunya memfokuskan ke pekerjaan. Diujung hak asasi seorang istri, ada batas ujungnya hak suami dan anaknya. Begitu pula suami yang ingin meningkatkan karirnya, perlu dikomunikasikan dengan anak dan istrinya, apakah mereka siap menerima konsekuensi bersama-sama apabila suami lebih memfokuskan pada pekerjaan. Diujung hak asasi seorang suami, ada batas ujungnya hak asasi istri dan anaknya.

 

Orang tua perlu memahami bahwa ada kegiatan boleh digantikan orang lain dan ada kegiatan yang tidak boleh digantikan orang lain. Pemenuhan kebutuhan fisik anak, boleh bantu oleh pengasuh, pengamalan ibadah bisa dibantu ustadz atau guru agama, memelihara hubungan sosial dan kemasyarakatan bisa dibantu tokoh adat/masyarakat. Namun kebutuhan penyemaian kasih sayang dan peran sebagai pendidik utama dan pertama tidak boleh digantikan/dibantu oleh orang atau institusi lain. Kehadiran orang tua (ayah dan ibu) sangat dibutuhkan kehadiran fisiknya oleh anak/balitanya saat melakukan fungsi pendidikan dan sosialisasi seperti menasehati anak sambil bermain, bernyanyi, membacakan cerita sambil menitipkan pesan-pesan moral, dan menemani tidur. Kehadiran pengasuh/baby sitter dapat membantu orang tua dalam melakukan fungsi tersebut, namun demikian fungsi pendidikan yang sejati orang tua (ayah dan ibu) sebagai pendidik utama dan pertama dalam memberikan cinta dan kasih sayang tidak akan dapat digantikan oleh siapapun.

 

Jadi jelaslah disini, kunci utama pengasuhan bagi suami istri yang bekerja adalah adanya keseimbangan peran dan tugas antara suami dan istri. Suami dan isteri harus mampu mengatur waktu dan berinteraksi dengan baik dalam menjalankan perannya masing-masing secara adil dan seimbang, karena pada hakekatnya semua urusan rumah tangga, baik mengasuh anak, memelihara rumah dan sosial kemasyarakatan serta kekerabatan adalah urusan dan tanggung jawab bersama suami dan isteri. Yang tak kalah penting adanya komunikasi yang terbuka dan efektif antara suami, istri dan antara orang tua dan anak dalam setiap pengambilan keputusan pengasuhan dan tumbuh kembang anak. Agama mengingatkan bahwa anak adalah titipan dari Tuhan Yang Maha Esa, sehingga harus ada kesadaran dan komitmen antara suami dan istri bahwa pengasuhan anak adalah ibadah yang harus dilakukan dengan sungguh-sunguh dan ikhlas yang kelak akan diminta pertanggungjawabannya. (rmd).