Mempertahankan Keharmonisan Keluarga Menghadapi Covid 19, Bagaimana Caranya?

“Bagaimana strategi dan pembagian peran suami istri untuk mempertahankan keharmonisan keluarga dalam menghadapi Covid 19?”. Pandemi covid 19 tidak hanya berdampak terhadap kesehatan masyarakat, tapi juga berdampak sosial dan ekonomi terhadap keluarga Indonesia dengan diberlakukannya kebijakan sosial distancing dan physical distancing oleh pemerintah. Keadaan ini disatu sisi bisa menjadi hal positif karena kebijakan belajar di rumah, bekerja di rumah dan beribadah di rumah bisa menjadi sarana untuk merekatkan kebersamaan dalam keluarga yang selama ini agak terabaikan. Namun juga harus diwaspadai kondisi ini menyebabkan stress baik akibat terlalu lama dirumah maupun hilangnya mata pencaharian pokok yang selama ini menghidupi keluarga, akan memicu terjadinya pertikaian antar anggota keluarga yang dampaknya akan mengarah pada rapuhnya ketahanan dan kesejahteraan keluarga. Berdasarkan survey Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan tema “Strategi Koping Mempertahankan Keharmonisan Keluarga Pada Masa Pandemi Covid 19” yang dilakukan pada bulan Mei 2020. Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar keluarga berfikir dan bertindak cukup rasional dalam menghadapi covid-19. Survey yang dilakukan terhadap 20.680 responden keluarga menunjukkan bahwa 99% responden menjawab keluarga saling mendukung ketika menghadapi pandemi covid 19, sebanyak 98% responden menghindari pertengkaran dan sebesar 97% responden bahkan mampu menerima kondisi dengan sabar. Namun yang juga perlu mendapat perhatian yaitu sebesar 2,5% keluarga yang melampiskan kemarahan yang bisa menyebabkan terjadinya keretakan didalam rumah tangga, sebesar 19 % menjawab mencari pekerjaan baru dan keluarga yang menjual barang dan perhiasan sebesar 56% responden.

Selanjutnya dalam survey ini juga dilakukan penelitian tentang pembagian peran suami istri dalam mempertahankan keharmonisan keluarga pada masa pandemi covid 19. Pertanyaan tentang siapa yang melakukan pekerjaan rumah, jawabannya 49% suami istri seimbang, tetapi 34% istri dominan dan suami dominan hanya 5,2%. Pertanyaan tentang siapa yang mengasuh anak, sebesar 71,5% suami istri seimbang, tapi lagi-lagi 21,7% istri dominan, dan suami dominan hanya 9,1%. Terhadap pertanyaan Siapa yang membeli kebutuhan rumah tangga, 53,8% suami istri bersama tapi lagi-lagi 23% istri dominan dan suami dominan hanya 8,3%. Kemudian siapa yang mengingatkan hidup sehat, 82% memang suami istri bersama tapi 12,4% istri dominan dan suami dominan jauh 2,7%. Siapa yang mengingatkan beribadah dan berdoa juga 86% suami istri seimbang tetapi 7,2% juga istri dominan,” sementara suami dominan hanya 4,9%. Suami dominan hanya unggul sedikit pada pertanyaan siapa yang mengingatkan berfikir dan berprilaku positif sebesar 5,3% sedangkan istri dominan sebesar 5,2% dan 85% dilakukan suami istri seimbang.  Hal ini menunjukkan bahwa peran istri sangat besar dalam mempertahankan keharmonisan keluarga di masa pandemi covid 19. Selain mengurus rumah tangga dan pengasuhan anak, kadangkala istri juga memiliki peran ganda dalam membantu suami dalam mencari nafkah. Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan bahwa keluarga Indonesia bisa menjadi keluarga tangguh yang didukung oleh peran Ibu yang sangat kuat.

Peran orang tua, khususnya ibu yang mendampingi anak-anak untuk belajar di rumah juga memegang peranan penting. Tugas-tugas sekolah yang diberikan secara online, menuntut orang tua juga paham akan pelajaran disekolah dan penggunaan teknologi informasi. Orang tua jelas tidak mengerjakan tugas anak yang diberikan, tetapi lebih pada mengarahkan anak-anak untuk memahami tugas yang diberikan.  Bagi orang tua yang juga bekerja, maka ini adalah tugas tambahan yang memerlukan pembagian waktu yang baik dan pengawasan dari orang tua apabila anak diasuh oleh bukan orang tua baik oleh pengasuh, kakek, nenek maupun anggota keluarga lainnya.  Walaupun hasil survey menunjukkan peran istri atau ibu lebih dominan dibandingkan suami dalam pengasuhan anak dimasa pandemi covid 19, namun peran orang tua, baik ayah maupun ibu diharapkan secara bersama-sama memiliki kesiapan dan keikutsertaan dalam pengasuhan anak.

Tugas sebagai orang tua tidak bisa dibagi atau dipisah-pisahkan antara ayah dan ibu. Untuk menyediakan kebutuhan makanan misalnya, ayah bekerja mencari nafkah yang halal, maka ibu pun harus mengolah makanan yang halal untuk putra-putrinya. Begitu juga dalam merawat dan mengasuh anak, harus dilakukan dengan bekerja sama antara ayah dan ibu. Anak membutuhkan kehadiran, keterlibatan dan kasih sayang ayah dan ibunya secara bersama-sama. Orangtua yang tidak saling mendukung, tidak bekerjasama dalam mengurus anaknya, akan membuat keluarga tidak harmonis. Sehingga anak merasa tidak nyaman, susah di atur/menentang dan akhirnya mencari pelarian ke kegiatan yang negatif seperti tawuran, narkoba, pornografi dan hal-hal negatif lainnya. Selain kerja sama antara ayah dan ibu, peran guru di sekolah juga sangat penting, sehingga perlu kerjasama yang baik antara orangtua di rumah dengan guru di sekolah. Kegiatan di sekolah dan di rumah harus diupayakan agar saling melengkapi dan mendukung untuk tumbuh kembang anak. Misalnya untuk membuat anak pintar, tentu bukan hanya tugas guru di sekolah tetapi orangtua harus membantu dan mendampingi anak belajar di rumah. Dengan adanya kerjasama antara ayah dengan ibu, antara orangtua dengan sekolah, antara keluarga dengan masyarakat dalam membantu tumbuh kembang anak, maka akan memudahkan anak untuk mencapai kesuksesannya. (Buku Orang Tua Hebat)

Dari sisi kesejahteraan keluarga di masa pandemi masih baik. Survey menunjukkan sekitar 80,8% merasa bahwa saat bencana Covid-19 ini keluarga tetap merasa bahagia. Sebanyak 97% mengatakan bahwa saat bencana covid ini keluarga tetap bersyukur atas anugerah Tuhan. Sedangkan komunikasi/interaksi antar anggota keluarga selama bencana covid kondisinya tetap baik sebesar 94%. Hal ini sesuai dengan beberapa pendapat beberapa ahli, salah satunya mengutip pendapat Dr. Jenny Ratna Suminar, M.Si. dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran (Unpad) pada situs website wargajogja.net tentang bagaimana cara hidup bahagia di tengah pandemi Covid-19. Melawan Covid-19 adalah dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Selain dengan mengonsumsi makanan yang bergizi kita juga harus menjaga diri agar tidak stres dan panik dengan cara berpikir positif dan bersyukur. Cara ini akan menumbuhkan hormon positif pada diri kita yang kemudian membuat kita bahagia. Selanjutnya adalah menikmati aktivitas yang ada meskipun berada dalam keadaan yang menuntut kita untuk selalu di rumah misalnya berolahraga, membaca buku, berkarya atau bahkan dimanfaatkan untuk berkumpul dan berbincang bersama keluarga. Terakhir ialah bagaimana berkontribusi dengan berbagi meringkan beban masyarakat yang terdampak oleh wabah. Jika berbagi ketika kita sedang dalam masa berkecukupan adalah hal yang biasa, namun berbagi saat hidup kita pas-pasan atau sulit akan menjadi hal yang luar biasa. Dengan berbagi, tubuh akan memproduksi hormon positif yang membuat kita menjadi bahagia.

Sebagai elemen penting dalam masyarakat, keluarga menjadi obyek dan subyek yang menentukan arah mau dibawa kemana bangsa ini. Kondisi psikologis keluarga dalam menghadapi dampak Pandemi Covid-19 menjadi salah satu faktor penting dan sangat menentukan dalam mengatasi dinamika permasalahan yang terjadi. Sehingga dapat dikatakan bahwa ketahanan keluarga diuji ditengah masa Pandemi Covid-19. Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan wahana utama dan pertama dalam menanamkan nilai-nilai dalam diri seorang manusia. Manusia merupakan bagian penting dalam pembangunan bangsa Indonesia, dimana manusia merupakan obyek sekaligus subyek pembangunan. Pada periode ke-2 pemerintahan Jokowi, pembangunan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) menjadi prioritas utama program kerja pemerintah lima tahun kedepan, dengan tetap memperhatikan aspek pembangunan fisik dan ekonomi. SDM yang berasal dari keluarga berkualitas akan menjadi subyek/pelaku yang mendorong terjadinya percepatan pembangunan. Pertumbuhan ekonomi yang terjadi akan tidak berarti jika tidak dibarengi dengan peningkatan ketahanan dan kesejahteraan keluarga.

BKKBN saat ini melakukan rebranding dengan program baru yaitu Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga berencana atau Bangga Kencana, dengan tekad  agar BKKBN semakin mampu untuk terus berupaya meningkatkan kepedulian keluarga Indonesia dalam membangun keluarga berkualitas demi pembangunan sumber daya manusia Indonesia seutuhnya.  Pembangunan  keluarga  melalui  pembinaan ketahanan  dan  kesejahteraan  keluarga  dapat dicapai  apabila  setiap  keluarga  menerapkan fungsi-fungsi  yang  seharusnya  berjalan  dalam kehidupan  keluarga.  Fungsi yang dimaksud dikenal dengan 8 fungsi keluarga. Setiap fungsi  dalam  delapan  fungsi  keluarga mempunyai  nilai  moral  yang  harus  di  terapkan dan  dilatih  sehingga  menjadi  kebiasaan pada  setiap  anggota  keluarga.  Dengan penerapan nilai-nilai moral 8 fungsi keluarga dijadikan pijakan dan tuntunan keluarga dalam menjalani kehidupannya. Penanaman dan pembentukan  nilai karakter melalui 8 Fungsi Keluarga perlu dibentuk sejak dini, karena usia dini merupakan masa-masa kritis yang akan menentukan sikap dan perilaku seseorang di masa yang akan datang. Mengembangkan karakter anak menjadi tugas utama orangtua yang dilakukan melalui penanaman nilai-nilai moral sebagai dasar dari norma yang dianut oleh keluarga dan penerapannya dilakukan melalui fungsi-fungsi keluarga. Kedelapan fungsi keluarga tersebut antara lain fungsi agama, fungsi sosial budaya, fungsi cinta kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi dan pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi lingkungan.

(1) Fungsi agama adalah bagaimana seluruh anggota keluarga dapat melaksanakan ibadah dengan penuh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME. Sebagai mahkluk beriman tentunya kita diminta untuk tetap bersabar dan tabah menghadapi ujian dan cobaan ini, dengan tetap meningkatkan ibadah kepada Tuhan YME. Bagi kalangan umat Islam, hikmah beribadah di rumah, suami, Istri dan anak-anak bisa menjalankan sholat berjemaah di rumah, sang ayah pun juga belajar menjadi imam bagi keluarganya. (2) Fungsi sosial budaya yaitu bagaimana keluarga dapat mengenalkan budaya Indonesia sebagai dasar-dasar nilai kehidupan seperti toleransi  dan saling menghargai, gotong royong, sopan santun, kerukunan, dan kebangsaan atau nasionalisme. Hal ini mengajak seluruh keluarga untuk saling membantu keluarga lainnya yang terkena dampat wabah covid 19. Selain itu, bentuk cinta tanah air kita dengan mematuhi arahan pemerintah untuk tetap berada dirumah. (3) Fungsi cinta kasih yaitu keluarga diharapkan dapat membina cinta kasih yang ditandai dengan rasa dekat, akrab antara seluruh anggota keluarga sehingga timbul suasana aman, damai dan tenteram. Dengan arahan tetap dirumah, akan semakin memupuk rasa cinta kasih dan merekatkan hubungan diantara anggota keluarga, lebih banyak waktu untuk saling mengobrol dan bertukar pikiran, termasuk didalamnya menanamkan empati dan peduli dengan keluarga lainnya  (4) Fungsi perlindungan yaitu keluarga menjadi pelindung pertama dan utama dalam menyampaikan kebenaran dan keteladanan kepada anak. Keluarga harus mampu memberikan rasa aman terhadap paparan virus dan penyakit, juga mengajak anggota keluarga untuk tidak berada di lingkungan keramaian dan menjaga jarak aman dari orang yang sedang sakit atau diduga terkena virus atau penyakit. (5) Fungsi reproduksi yaitu keluarga menjadi pengatur reproduksi sehat dan terencana sehingga anak-anak yang dilahirkan menjadi generasi penerus yang berkualitas. Memberikan edukasi kepada orang-orang yang rentan seperti balita, ibu hamil dan lansia untuk menjaga kesehatan, meningkatkan imunitas dan mengurangi aktivitas diluar rumah. (6) Fungsi sosialisasi dan pendidikan dimana orang tua berkewajiban mengasuh dan mendidik anak dengan cara memberikan bimbingan dalam pembentukan karakter sehingga menjadi sumber daya manusia  yang ulet, kreatif, bertanggung jawab, dan  berbudi luhur. Setiap keluarga memberikan pemahaman untuk menanamkan nilai dan norma berkomunikasi yang sehat, memastikan setiap anggota keluarga untuk menjalankan etika dan tata cara hidup bersih dan sehat seperti  mencuci tangan dan etika ketika batuk. (7) Fungsi ekonomi yaitu orang tua mengajarkan sikap hemat dan gemar menabung sejak dini serta menumbuhkan jiwa berwirausaha sejak masa kanak-kanak. Menanamkan kesadaran untuk menerapkan pola hidup sehat, kesehatan adalah harta yang tidak ternilai harganya, menyadari bahwa sehat itu murah dan biaya berobat itu mahal. Bagi yang kehilangan pekerjaan (PHK) dimasa covid 19,  bisa mencari peluang wirausaha dan pengaturan keuangan keluarga. (8) Fungsi pemeliharaan lingkungan yaitu keluarga siap dan sanggup memelihara kelestarian lingkungan dengan menanamkan nilai-nilai disiplin dan perilaku hidup bersih sejak dini. Dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan serta bersama keluarga lainnya bergotong royong agar terhindar dari paparan virus dan penyakit.

Keharmonisan keluarga dapat terwujud apabila pasangan suami dan istri mampu memahami hak dan kewajiban masing-masing, dan menjalankan peran, tugas dan fungsi secara seimbang. Suami dan istri saling membantu dan membagi waktu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga termasuk dalam mendampingi anak yang sedang belajar di rumah. Untuk itu perlu dibangun komunikasi yang baik diantara pasangan, saling mendukung dan menguatkan  dalam menghadapi kondisi dan cobaan saat ini. Perlu kesepakatan bersama-sama pasangan dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan keuangan, pendidikan anak dan perencanaan keluarga dimasa depan. Dengan ada keterbukaan komunikasi dan  menjalankan 8 fungsi keluarga dengan baik oleh setiap keluarga, diharapkan dapat menjaga kehamornisan keluarga sekaligus menangkal penyebaran dan melindungi seluruh anggota keluarga dari paparan virus covid 19. (Dari berbagai sumber) (Rmd).